Sedari tadi gadis itu hanya celinguk-celingak tak jelas, dia belum mendapatkan apa yang dia cari. Sebenarnya benda yang iya cari tidak begitu penting, hanya saja mungkin bisa menghilangkan perasaan bosannya. Dia sudah putus asa, mencari dimana kunmpulan rak yang berisi novel.
“ kok gak ada yah? Masa sekolah perpustakaanya cuman ada buku pelajaran?” dan akhirnya gadis itu berjalan menuju meja penjaga perpustakaan
“ mbak, ini kok saya dari tadi nyari kumpulan rak yang ada novelnya gak ada yah?”
“itu baru saja kemaren kami pindahkan kedalam gudang, cari saja di sana ”
“makasih ya mba” ucap gadis itu dengan disertai senyuman yang khas. Dan segera menuju gudang perpustakaan. Baru beberapa melangkah tiba-tiba saja penjaga perpustakaan itu memanggilnya lagi.
“hmm.. eh tunggu dulu, hey tungguu..hhmm ssii vi a, sivia iya sivia tunggu dulu,nama kamu sivia kan ?” kata penjga perpustakaan itu terbata-bata karena dia belum mengetahui gadis itu, dan berusaha membaca nama siswa yang ada di seragamnya.
Gadis itu bernama sivia, gadis yang cukup cantik, manis sepertinya dia anak yang cukup pendiam, ramah dan anggun kalau dilihat dari penampilannya.
“iya mba ada apa?” jawab sivia dan kembali menuju meja penjaga perpustakaan tadi
“nanti kalau ada yang dating ke perpus mau minjem buku tolong bilangin tunggu sebentar yah, saya ada urusan dikit jadi pergi sebentar”
“iya baik mba”
***
Sivia kembali melanjutkan aktivitas dan tujuan dia dating ke perpustakaan. Dia mencari novel yang ada di dalam gudang pojok perpustakaan. Tampaknya gudang itu kurang terurus, gelap dan sedikit agak berdebu.
Saat mulai memasuki gudang itu, tanpa sengaja sivia tersandung sesuatu hingga membuat keseimbangannya goyah dan jatuh menimpa sesuatu lagi
“awww.. ehh..kok aku..aaaaaaaaaaa” sivia tampak kaget karena dia jatuh menimpa sesuatu yang membuatnya tak begitu sakit, sesuatu itu adalah seseorang.
“awwwww.. errgghh” sepertinya seseorang itu merasa tubuhnya begitu berat untuk bangun dan ternyata sivia masih berada di atas tubuhnya.
“aaaaaaaaaaaaaaaa” sivia terkejut lagi saat tau ternyata dia jayuh menimpa tubuh seorang laki-laki. Buru-buru dia bangun dan mukanya sepertinya terlihat sangat pucat, entah itu karena ketakutan atau terkejut.
“ammphhh..hummppp..” sepertinya laki-laki itu marah dan begutu terganggu denga teriakan dari sivia, hingga dia membekap mulut sivia
“diam!” kata laki-laki itu dengan dingin dan tatapan yang tak bisa diartikan. Sepertinya sivia langsung menuruti perkataan laki-laki itu dan mengisyaratkan dengan mengangguk pelan.
“maaf, tadi itu aku gak sengaja jadi kesandung kaki kamu terus itu aku jatuh” sivia begitu ketakutan, mukanya pun pucat dan mengeluarkan keringat dingin. Tapi laki-laki itu hanya menunjukkan wajah tanpa expresinya. Tanpa di duga, laki-laki itu melakukan sesuatu yang berhasil membuat jantung sivia seperti lari di kejar bayangan putih.
“gak usah takut gue bukan mayat hidup” laki-laki itu tetap saja berkata dengan wajah tanpa expresi sambil mengambil sesuatu di sakunya lalu mengusapkannya ke muka sivia yang berkeringa
“lucu! Loe kira gue hantu? Sampai loe keringatan gini liat gue” laki-laki itu dengan telatennya mengusap keringat sivia dengan sapu tangan yang di ambil tadi. Sementara sivia tak bisa bergerak, tubuhnya terasa lemas sekali tapi dia masih bisa memeperhatikan wajah laki-laki itu. Wajah yang rupawan, matanya sipit kulit putih yang bersih, hidung yang mancung serta bibir yang indah tanpa senyuman.
“maksih banyak.. maaf aku udah ganggu tidur kamu dan hmm,, nabrak kamu sampai.. ehhh nama kamu siapa? Aku sivia” kata sivia yang berusaha mengalihkan pembicaraan awalnya karena dia bingung harus berkata apa dan pada akhirnya sivia menanyakan nama dia dan memperkenalkan dirinya.
“Alvin ! Alvin Jonathan“ Nama yang keren untuk orang yang menurut sivia juga tampak keren. Orang yang cuek, pelit bicara tapi sepertinya dia orang yang perhatian.
Setelah perkenalan singkat itu sivia menjadi tidakbersemangat lagi mencari novel, tapi sepertinya Alvin bisa membaca pikiran sivia. Alvin berdiri dan mengambil sebuah novel yang ada di rak atas.
“nih! Loe nyari ini kan ?” Alvin meyerahkan sebuah novel yang sepertinya seru untuk di baca. Sekali lagi sivia Nampak kaget, kenapa Alvin begitu bisa mengerti dia, padahal mereka baru aja berkenalan beberapa menit lalu
“gak usah kaget, setiap orang yang kesini pasti mau nyari novel” Alvin berkata seperti itu, seolah dia tau apa yang di pikirkan sivia.
“makasih” sivia pun berdiri dan segera melangkah tapi langkahnya terhenti karena…
“mau kemana? Baca saja disini, tempatnya lebih nyaman”
“tapikan ganggu kamu”
“siapa yang bilang? Inikan tempat umum”
Tampaknya sivia mulai mempertimbangkan perkataan Alvin dan memang benar disini temaptnya lebih nyaman, tapi mana bisa dia berduaan dengan laki-laki di tempat seperti ini. Lebih baik dia keluar ruangan ini
“makasih, aku di situ aja. Sampai ketemu Alvin ” ucap sivia berpamitan pada Alvin , sementara Alvin hanya terkekeh mendengar sivia berkata seperti itu.
“ perfect “
***
Setelah kejadian di perpustakaan itu tampaknya sivia begitu senang seharian ini dia terus tersenyum bahkan selama jam pelajran pun sivia hanya melamun.
19 April 2008
Aku menunggu kau bisa tersenyum padaku
Awal pertemuan yang manis
Semoga di akhiri dengan sesuatu yang indah
Begitulah isi tulisan yang ada di dalam diary itu. Diary milik sivia…
Nyoba bikin cerbung.. yapi kayaknya gagal deh.. u,u tapi harus tetap semangak.. Part 1 segini dulu yahh…

